MBKM di Universitas Islam Nusantara: Membuka Ruang Belajar Lebih Luas bagi Mahasiswa
- account_circle samarainstitut
- calendar_month 13 jam yang lalu
- visibility 11
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kuliah tidak harus selalu berlangsung di dalam kelas. Melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk memperoleh pengalaman belajar di luar program studi maupun di luar kampus. Konsep ini dirancang untuk membuat pembelajaran perguruan tinggi lebih fleksibel, inovatif, dan sesuai dengan kebutuhan mahasiswa.
Salah satu perguruan tinggi yang mengimplementasikan program tersebut adalah Universitas Islam Nusantara (UNINUS). Penelitian mengenai pelaksanaan MBKM di UNINUS melibatkan ribuan responden dari kalangan mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan untuk melihat kesiapan kampus dalam menjalankan program tersebut.
Mahasiswa Mendapat Pengalaman di Luar Kelas
Salah satu daya tarik MBKM adalah kesempatan mahasiswa untuk belajar melalui berbagai aktivitas nyata. Programnya dapat berupa magang, KKN atau proyek desa, kampus mengajar, pertukaran pelajar, penelitian, kewirausahaan, studi independen, hingga proyek kemanusiaan.
Pengalaman tersebut membuat proses belajar tidak hanya berfokus pada teori. Mahasiswa dapat berhadapan langsung dengan masyarakat, dunia kerja, lembaga pendidikan, maupun lingkungan profesional.
Misalnya, melalui KKN, mahasiswa dapat belajar mengidentifikasi kebutuhan masyarakat dan merancang program yang sesuai. Sementara melalui magang, mahasiswa memperoleh gambaran mengenai dunia kerja dan dapat mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan setelah lulus.
Seberapa Siap Kampus Menjalankan MBKM?
Hasil penelitian di UNINUS menunjukkan bahwa 57% responden menyatakan siap menjadi bagian dari pelaksanaan MBKM, sementara 40% belum siap dan 3% tidak memiliki minat. Tenaga kependidikan menunjukkan tingkat kesiapan yang lebih tinggi, yaitu 83%, sedangkan kesiapan dosen dalam memberikan motivasi terhadap pelaksanaan MBKM tercatat 53%.
Data tersebut menunjukkan adanya respons positif terhadap konsep pembelajaran yang lebih fleksibel. Namun, pelaksanaan MBKM tetap membutuhkan persiapan yang matang, terutama dalam hal informasi dan pemahaman program.
Sosialisasi Masih Menjadi Tantangan
Salah satu persoalan yang ditemukan adalah belum meratanya pemahaman mengenai kebijakan MBKM. Dalam survei, 53% responden menyatakan hanya mengetahui sebagian kecil kebijakan MBKM, 33% mengetahui sebagian besar, 4% mengetahui secara keseluruhan, sedangkan 10% tidak mengetahui kebijakan tersebut.
Artinya, keberhasilan program tidak hanya bergantung pada kebijakan kampus, tetapi juga pada seberapa baik informasi tersebut diterima oleh mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan.
Belajar untuk Masa Depan
Pada akhirnya, MBKM dirancang bukan sekadar untuk memberikan pengalaman baru kepada mahasiswa. Program ini diharapkan dapat membantu meningkatkan hard skill dan soft skill, sehingga mahasiswa lebih siap menghadapi perubahan sosial, perkembangan teknologi, dan dunia kerja.
Penelitian di UNINUS juga menyimpulkan bahwa MBKM dapat membantu meningkatkan kompetensi dan keterampilan mahasiswa serta mendorong mereka menjadi pribadi yang lebih mandiri dan adaptif. Bagi dosen, kegiatan di luar kampus juga dapat memperluas pengalaman dan membuka peluang transfer pengetahuan dengan dunia usaha maupun praktisi.
Pada akhirnya, makna “kampus merdeka” bukan sekadar belajar di tempat yang berbeda, tetapi memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar dari pengalaman nyata. Ketika pembelajaran di kelas dipadukan dengan pengalaman di masyarakat dan dunia profesional, mahasiswa memiliki ruang yang lebih luas untuk berkembang, mencoba, dan mempersiapkan diri menghadapi masa depan.
- Penulis: samarainstitut

Saat ini belum ada komentar