Filsafat & Teologi Sukses
- account_circle Prof. Dr. Salamuddin, S. Ag, M.A.
- calendar_month Kamis, 17 Sep 2026
- visibility 24
- comment 0 komentar
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oplus_131072
FILSAFAT DAN TEOLOGI SUKSES
Salamuddin
Sukses dalam pandangan Islam bukanlah sekadar peristiwa yang terjadi lalu selesai. Sukses adalah relasi yang menghubungkan manusia sebagai hamba, alam sebagai medan ikhtiar dan Allah sebagai Sang Penentu segala hasil.
Untuk memahaminya, kita perlu melihat dua hukum yang selalu bekerja diam-diam dalam hidup kita hari ini. Hukum pertama adalah Qadha’ dan Qadar. Seorang dosen muda di Banjarmasin begadang berbulan-bulan menyusun borang akreditasi, lembur bersama Tim Borang, berdebat dengan data dan menahan capek. Saat pengumuman keluar, hasilnya “Unggul”.
Di ruangan lain, ada dosen yang juga kerja keras, borangnya rapi, tetapi hasilnya hanya “Baik Sekali”. Secara manusiawi terasa tidak adil.
Namun Surah Al-Qamar mengingatkan bahwa segala sesuatu Allah ukur kadarnya. Yang satu Allah takdirkan Unggul sebagai ujian syukur, yang satu Allah takdirkan Baik Sekali sebagai ujian sabar dan bahan evaluasi.
Hukum kedua adalah Kasb atau ikhtiar. Ada pimpinan fakultas yang tiap rapat hanya bicara visi besar tetapi tidak pernah turun cek data. Ada pula Kabiro yang setiap malam mengecek satu per satu bukti fisik, berkoordinasi dengan prodi dan menelpon operator sampai larut.
Surah Ar-Ra’d menegaskan Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai kaum itu sendiri yang mengubahnya. Sukses terjadi ketika takdir Allah bertemu dengan ikhtiar manusia yang tidak setengah-setengah. Tanpa sintesis ini, kita mudah jatuh ke dua penyakit zaman ini, menyalahkan “sistem” ketika gagal, atau merasa “paling berjasa” ketika berhasil. Dari hukum itu lahir tolok ukur sukses yang seringkali bertabrakan dengan realita hari ini.
Tolok ukur pertama adalah “kesucian jiwa”. Kita lihat banyak pejabat kampus yang karirnya naik, mobilnya ganti, tetapi tidurnya tidak nyenyak. Rapat dipenuhi curiga, email dibaca dengan prasangka dan grup WhatsApp jadi medan perang dingin.
Surah Asy-Syams menyebut beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya. Ada seorang Dekan yang menolak tanda tangan proyek miliaran karena ada kejanggalan administrasi. Jabatannya tidak naik secepat teman sejawatnya, tetapi ia pulang ke rumah dengan wajah tenang dan bisa sujud malam tanpa beban. Itulah ‘falah ruhiyah’.
Tolok ukur kedua adalah kebermanfaatan. Hari ini banyak orang berlomba menjadi “influencer akademik”: nama besar, H-index tinggi, tetapi mahasiswanya tidak pernah dibimbing skripsi. Sebaliknya ada dosen biasa yang tidak pernah masuk media, tetapi setiap lulusannya ia temani melamar kerja, ia ajari menulis artikel, ia sambungkan ke jaringan alumni. Hadis Nabi menyebut sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat. “Falah ijtima’iyah’ lahir dari orang seperti ini.
Tolok ukur ketiga adalah jejak yang menembus kematian. Kampus kita pernah membangun gedung megah dengan anggaran fantastis, lima tahun kemudian bocor di mana-mana dan tidak terawat. Di sisi lain, ada seorang dosen pensiunan yang 20 tahun lalu menulis modul praktikum sederhana. Modul itu difotokopi mahasiswa turun-temurun, direvisi diam-diam oleh juniornya dan sampai hari ini masih dipakai. Gedung bisa hancur, tetapi ilmu yang mengalir pahalanya tidak pernah mati. “Itulah falah ukhrawiyah”, sukses yang menembus liang lahat.
Untuk sampai ke tolok ukur itu, kita harus melewati empat maqam yang hari ini justru paling rapuh.
Maqam pertama adalah “niat”. Di era media sosial, niat paling mudah kotor. Ada Tim Borang yang kerja siang malam, tetapi caption Instagram-nya lebih panjang dari laporan monev. Ada pimpinan yang rajin studi banding, tetapi tujuannya lebih banyak untuk konten daripada perbaikan mutu. Hadis Bukhari mengingatkan amal tergantung niat. Tanpa pelurusan arah, capaian besar hanya akan menjadi riya yang melelahkan.
Maqam kedua adalah ilmu. Kita hidup di zaman informasi banjir, tetapi ilmu langka. Banyak rapat mutu isinya keluhan, bukan data. Banyak SK dibuat tanpa membaca Permendikbud terbaru. Surah Muhammad memerintahkan berilmu dulu sebelum beramal. Akreditasi Unggul tidak lahir dari semangat saja, ia lahir dari orang yang mau membaca butir, memahami indikator dan mau belajar dari asesor.
Maqam ketiga adalah amal nyata. Kita sering terjebak sindrom “rapat tanpa akhir”. Visi ditulis indah, tetapi tidak ada yang mau lembur merapikan bukti. Surah At-Taubah memerintahkan bekerja, karena Allah akan melihat pekerjaan itu. Dosen yang begadang validasi data, staf yang sabar melayani asesor, operator yang mengecek link satu per satu, merekalah wajah amal dalam Islam.
Maqam keempat adalah tawakal. Setelah semua ikhtiar dikerahkan, banyak dari kita masih tidak bisa tidur karena cemas menunggu hasil. Kita lupa Surah Ali Imran yang memerintahkan bertawakal setelah membulatkan tekad. Tawakal hari ini berarti berani melepas hasil ke Allah sambil tetap menyiapkan perbaikan untuk lima tahun ke depan. Bukan pasrah, tetapi percaya penuh.
Keempat maqam itu hanya berdiri di atas tiga rukun yang hari ini paling sering retak. Rukun pertama adalah “iman”. Iman membuat kita tidak panik ketika asesor memberi catatan merah dan tidak mabuk ketika sertifikat Unggul ditempel di pintu. Iman adalah mizan yang menimbang emosi agar tetap stabil.
Rukun kedua adalah ukhuwah. Lihat realitanya, rapat akreditasi sering berubah menjadi saling menyalahkan antar unit. Prodi menuding LPM lambat, LPM menuding prodi tidak komplit data dan pimpinan menuding semua tidak bergerak. Surah Al-Maidah memerintahkan tolong-menolong dalam kebajikan.
Prinsip “hebat adalah menghebatkan” hancur ketika Warek sibuk mencari panggung sendiri, Kabiro sibuk mengamankan posisinya dan staf sibuk menyelamatkan SKP. Padahal sertifikat Unggul hanya akan turun ketika semua sadar bahwa mereka satu tubuh.
Rukun ketiga adalah istiqamah. Kita jago saat menjelang visitasi, lembur, rapat dan senyum ke asesor. Tiga bulan setelah Unggul, borang tidak diupdate, data PD Dikti terlambat dan mutu kembali ke setelan pabrik. Surah Hud memerintahkan istiqamah. Allah lebih cinta amalan kecil yang terus-menerus daripada amalan besar yang musiman. Banyak kampus tumbang bukan karena gagal meraih Unggul, tetapi karena gagal menjaga Unggul.
Pada akhirnya semua hukum, tolok ukur, syarat, dan rukun itu mengingatkan kita pada satu doa kebaikan dunia dan kebaikan akhirat. Kebaikan dunia hari ini adalah gaji yang berkah, jabatan yang amanah, akreditasi yang benar-benar mencerminkan mutu, dan bukan kosmetik.
Kebaikan akhirat adalah ketika semua itu menjadi saksi kebaikan di hadapan Allah, bukan dakwaan. Jadi ketika seorang dosen muda menangis di toilet karena borangnya ditolak, ingatlah itu bagian dari Qadarullah yang sedang mengajarinya sabar. Ketika seorang pimpinan menolak proyek yang menggiurkan demi integritas, ingatlah itu “falah ruhiyah” yang sedang menyelamatkannya. Ketika seorang staf TU dengan gaji pas-pasan tetap teliti mengarsipkan bukti, ingatlah itu amal yang sedang menembus kematian.
Sukses Islam tidak diukur dari seberapa tinggi kita naik, tetapi dari seberapa lurus jalan kita saat menanjak. Dan jalan lurus itulah yang kelak akan membuat kita pulang kepada Allah tanpa beban, tidak gundah dan gelisah.
Fa’tabiru…
- Penulis: Prof. Dr. Salamuddin, S. Ag, M.A.

Saat ini belum ada komentar