Headline Artikel
light_mode
Trending Tags
Beranda » Artikel » Ilmiah Atau Diktator,?

Ilmiah Atau Diktator,?

  • account_circle Prof. Dr. Salamuddin, S. Ag, M.A.
  • calendar_month Jumat, 18 Sep 2026
  • visibility 12
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oplus_131072

Ilmiah atau Diktator?
Kedok Tunggal Metodologi Barat
Salamuddin

Selama berabad-abad dunia diajari satu kebohongan halus, bahwa “ilmiah” hanya punya satu wajah. Wajah itu berkacamata tebal, membawa mikroskop dan menolak segala yang tidak bisa ditimbang. Di luar wajah itu, semua disebut mitos, kepercayaan, atau paling sopan “studi budaya”.

Inilah wajah asli hegemoni epistemologi. Ia tidak berteriak. Ia berbisik lewat kurikulum, jurnal dan gelar. Ia tidak melarang orang beriman. Ia hanya meminggirkan iman ke sudut paling jauh dari laboratorium, lalu menertawakannya sebagai “subjektif”.

Padahal diktator sejati bukan yang memaksa orang sujud. Diktator sejati adalah yang memaksa semua orang memakai satu definisi kebenaran. Definisi itu berbunyi, yang tidak empiris berarti tidak ada.

Dengan definisi itu, Tuhan dipensiunkan dini. Malaikat diberhentikan tanpa pesangon dan akhirat dicoret dari peta karena tidak muncul di citra satelit.

Lihat akibatnya pada Islam. Kitab suci yang selama 14 abad dijaga dengan sanad hafalan, dibedah pakai metode yang sama untuk membedah epik Yunani.

Tujuannya satu, mencari “penulis asli” dan “lapisan redaksi”. Seolah wahyu adalah novel yang ditulis diam-diam di gua. Metode itu disebut kritis.

Padahal ia buta. Buta terhadap tradisi mutawatir yang mustahil dipalsukan karena dibawa oleh ribuan mulut di setiap generasi. Buta terhadap ilmu
jarh wa ta’dil yang menguliti kejujuran setiap periwayat sampai ke nenek moyangnya.

Shalat pun tidak luput. Karena tidak bisa diukur kadar pahalanya, maka ia direduksi. Inti penghambaan dicopot, sisanya dijual sebagai yoga untuk ketenangan jiwa.

Zakat dipuji sebagai sistem pajak sukarela abad pertengahan. Jihad dilabeli kekerasan ideologis. Semua dipotong sampai pas dengan bingkai kacamata tunggal itu. Islam yang datang sebagai sistem hidup utuh, dipreteli menjadi ritual privat yang tidak mengganggu pasar dan negara.

Kedoknya netral, padahal membawa muatan ideologi paling berat, sekularisme. Mengaku objektif, padahal sudah menetapkan sejak awal bahwa Tuhan tidak masuk ruang diskusi. Mengaku universal, padahal lahir dari luka sejarah Eropa melawan gereja. Luka itu lalu dibalut rapi dan dijual ke dunia Timur sebagai “modernitas”.

Ilmu tidak butuh diktator. Ilmu butuh kompas. Kompas umat ini sudah jelas sejak awal, wahyu sebagai penunjuk arah, akal sebagai mesin penggerak, indera sebagai sensor dan hati sebagai penimbang rasa.

Empat unsur itu bekerja bersama. Tanpa wahyu, akal akan membuat tuhan baru bernama ideologi. Tanpa akal, wahyu akan dibaca seperti mantra. Tanpa indera, manusia hidup di awang-awang. Tanpa hati, semua rumus menjadi buas.

Maka pertanyaannya bukan lagi “apakah ini ilmiah”. Pertanyaannya adalah “ilmiah versi siapa”. Selama kita masih gemetar menyebut Al-Qur’an sebagai sumber ilmu tertinggi di depan forum akademik, selama itu pula kita masih dijajah. Dijajah bukan oleh tentara, tapi oleh definisi.

Sudah waktunya melepas kedok itu. Sudah waktunya berani berkata lantang “kami punya standar kebenaran sendiri”. Standar itu tidak butuh izin Scopus untuk berlaku. Standar itu tidak menunggu validasi Barat untuk dihormati. Karena kebenaran sejati tidak pernah meminta izin untuk menjadi benar.

Fa’tabiru…

  • Penulis: Prof. Dr. Salamuddin, S. Ag, M.A.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Fikih Muamalah di Era Digital: Bagaimana Islam Memandang Jual Beli Online?

    Fikih Muamalah di Era Digital: Bagaimana Islam Memandang Jual Beli Online?

    • calendar_month Sabtu, 15 Agt 2026
    • account_circle Prof. Dr. Salamuddin, S. Ag, M.A.
    • visibility 26
    • 0Komentar

    Perkembangan teknologi mengubah cara manusia melakukan transaksi. Jika dahulu jual beli dilakukan dengan bertemu langsung di pasar atau toko, kini seseorang dapat membeli barang hanya melalui smartphone. Belanja online telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat modern. Namun, muncul pertanyaan menarik bagi umat Islam: bagaimana fikih memandang transaksi yang dilakukan secara digital? Persoalan tersebut termasuk dalam […]

  • Aktivisme Mahasiswa dalam Perspektif Islam: Bergerak untuk Kebaikan

    Aktivisme Mahasiswa dalam Perspektif Islam: Bergerak untuk Kebaikan

    • calendar_month Sabtu, 15 Agt 2026
    • account_circle Prof. Dr. Salamuddin, S. Ag, M.A.
    • visibility 42
    • 0Komentar

    Mahasiswa sering disebut sebagai kelompok yang memiliki peran penting dalam perubahan sosial. Dengan pengetahuan, idealisme, dan kemampuan berpikir kritis yang dimiliki, mahasiswa dapat terlibat dalam berbagai persoalan masyarakat. Dalam Islam, kepedulian terhadap lingkungan sosial merupakan bagian penting dari kehidupan seorang Muslim. Karena itu, aktivitas mahasiswa seharusnya tidak hanya berorientasi pada kepentingan pribadi, tetapi juga memiliki […]

  • Aceh Targetkan Pembelajaran Sains yang Terintegrasi dengan Al-Qur’an

    Aceh Targetkan Pembelajaran Sains yang Terintegrasi dengan Al-Qur’an

    • calendar_month Sabtu, 15 Agt 2026
    • account_circle Prof. Dr. Salamuddin, S. Ag, M.A.
    • visibility 30
    • 0Komentar

    Banda Aceh — Pemerintah Aceh melalui Dinas Pendidikan menyatakan tekad menjadikan Aceh sebagai salah satu pelopor penguatan pembelajaran sains yang terintegrasi dengan nilai-nilai Al-Qur’an. Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam mengembangkan pembelajaran IPA yang menghubungkan ilmu pengetahuan dengan perspektif keislaman. Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari visi untuk […]

  • Ragam Tradisi dalam Islam: Memahami Keberagaman Budaya dalam Kehidupan Muslim

    Ragam Tradisi dalam Islam: Memahami Keberagaman Budaya dalam Kehidupan Muslim

    • calendar_month Jumat, 14 Agt 2026
    • account_circle Prof. Dr. Salamuddin, S. Ag, M.A.
    • visibility 24
    • 0Komentar

    Islam merupakan agama yang memiliki ajaran yang luas dan mencakup berbagai aspek kehidupan manusia. Dalam perkembangannya, Islam hadir di berbagai wilayah dengan latar belakang budaya, bahasa, adat istiadat, dan kebiasaan masyarakat yang berbeda-beda. Kondisi tersebut melahirkan beragam tradisi dalam kehidupan umat Muslim. Keberagaman tradisi dalam masyarakat Muslim merupakan bagian dari perjalanan sejarah dan budaya Islam. […]

  • Ragam Makanan dalam Tradisi Muslim: Cita Rasa Islam dari Berbagai Negara

    Ragam Makanan dalam Tradisi Muslim: Cita Rasa Islam dari Berbagai Negara

    • calendar_month Sabtu, 15 Agt 2026
    • account_circle Prof. Dr. Salamuddin, S. Ag, M.A.
    • visibility 32
    • 0Komentar

    Islam berkembang di berbagai penjuru dunia sehingga kehidupan masyarakat Muslim memiliki banyak warna. Salah satu bentuk keragaman yang menarik dapat ditemukan dalam makanan. Masyarakat Muslim di Indonesia, Timur Tengah, Asia Selatan, Afrika, hingga Eropa memiliki makanan khas yang berbeda. Meskipun demikian, makanan tersebut dapat menjadi bagian dari kehidupan sosial dan budaya umat Islam. Makanan Halal […]

  • Mengapa Hati Perlu Dijaga? Memahami Pentingnya Hati dalam Kehidupan Seorang Muslim

    Mengapa Hati Perlu Dijaga? Memahami Pentingnya Hati dalam Kehidupan Seorang Muslim

    • calendar_month Sabtu, 15 Agt 2026
    • account_circle Prof. Dr. Salamuddin, S. Ag, M.A.
    • visibility 28
    • 0Komentar

    Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak hanya menghadapi persoalan yang terlihat oleh orang lain. Ada pula berbagai persoalan yang terjadi di dalam diri, seperti rasa iri, marah, kecewa, sombong, takut, dan gelisah. Karena itu, menjaga hati menjadi bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim. Kajian Islam tentang hati tidak hanya membahas perasaan, tetapi juga berkaitan dengan niat, […]

expand_less