Headline Artikel
light_mode
Trending Tags
Beranda » Artikel » Guru Kreatif, Mendidik Menuju Sang Maha Kreatif

Guru Kreatif, Mendidik Menuju Sang Maha Kreatif

  • account_circle Prof. Dr. Nurussakinah Daulay, M. Psi, Psikolog, CWC.
  • calendar_month Senin, 28 Sep 2026
  • visibility 52
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Guru Kreatif, Mendidik Menuju Sang Maha Kreatif
Prof.Dr. Nurussakinah Daulay, M.Psi.Psikolog.CWC

Kreativitas bukan sekadar keterampilan abad 21. Ia adalah sifat dasar manusia. Karena manusia diciptakan menurut fitrah Sang Pencipta. Tuhan adalah Al-Mubdi, Dzat yang Maha Kreatif, dari ketiadaan menjadi ada dan dari ide menjadi kenyataan.

Peran guru menjadi sangat krusial di titik ini. Jika Tuhan adalah sumber segala kreativitas, maka tugas guru adalah menjadi jembatan. Menjadi penyalur sifat itu agar tumbuh di dada peserta didik.

Guru yang kreatif tidak lahir dari pelatihan semata. Ia lahir dari kesadaran bahwa mengajar adalah bentuk ibadah penciptaan.

Dunia hari ini tidak lagi butuh manusia yang hanya bisa menghafal. Kecerdasan buatan bisa menghafal lebih cepat. Google bisa menjawab lebih lengkap. Yang tidak bisa digantikan mesin adalah kemampuan menciptakan sesuatu yang baru, menghubungkan hal yang tidak terkait dan memberi makna.

Anak-anak datang ke sekolah bukan sebagai kertas kosong. Mereka datang dengan sejuta pertanyaan, rasa ingin tahu dan imajinasi liar.

Jika guru hanya menyodorkan papan tulis dan buku paket, maka kreativitas itu akan mati perlahan. Sebaliknya, guru yang kreatif akan memperlakukan kelas sebagai laboratorium. Tempat bereksperimen, gagal, mencoba lagi dan menemukan.

Menjadi kreatif juga berarti menjadi peneladan. Anak belajar bukan hanya dari apa yang diajarkan, tapi dari siapa yang mengajar. Ketika guru berani keluar dari zona nyaman, membuat media dari barang bekas, mengubah soal matematika menjadi permainan, atau mengaitkan pelajaran IPA dengan sampah di sekitar sekolah, maka tanpa sadar ia sedang berkata “Lihat, mencipta itu menyenangkan.”

Kreativitas tidak bisa diperintah. Ia hanya bisa dipancing dan dirawat. Ada beberapa jalan yang bisa ditempuh guru agar kreativitas peserta didik muncul dan berkembang.

Pertama, memberi ruang aman untuk berbeda.Ide gila sering lahir dari anak yang tidak takut salah. Kelas yang kreatif adalah kelas yang merayakan pertanyaan “kenapa” dan “bagaimana kalau”. Guru harus berani menahan diri untuk tidak langsung memotong, menghakimi atau menertawakan jawaban di luar nalar.

Kedua, menghubungkan pelajaran dengan kehidupan nyata.
Rumus fisika akan hidup ketika dipakai untuk membuat roket dari botol. Sejarah akan hidup ketika siswa diminta membuat podcast tentang pahlawan lokal. Ketika ilmu terasa relevan, otak anak akan bekerja mencari solusi baru.

Ketiga, memberi masalah, bukan hanya jawaban. Soal dengan satu jawaban melatih ingatan. Masalah terbuka melatih penciptaan. “Bagaimana caranya agar sekolah kita tidak banjir?” adalah pertanyaan yang jauh lebih kreatif daripada “Sebutkan 3 penyebab banjir.”

Keempat, menjadi guru yang juga pembelajar. Guru kreatif tidak berhenti belajar. Ia ikut workshop, menonton, membaca dan mencoba aplikasi baru. Ia tidak malu bilang “saya belum tahu, mari cari bersama”. Sikap itu menular. Murid jadi paham bahwa belajar adalah proses menempa diri terus-menerus.

Puncak Kreativitas mendekat kepada Sang Maha Kreatif. Kreativitas tanpa arah bisa melahirkan kesombongan. Kreativitas tanpa nilai bisa melahirkan kerusakan.

Karena itu puncak dari mendidik kreatif bukanlah sekadar menghasilkan karya. Puncaknya adalah mendekatkan manusia pada Tuhannya.

Ketika seorang siswa berhasil menemukan cara baru mendaur ulang sampah, ia sedang mempraktikkan sifat Allah sebagai Pemelihara.

Ketika ia menciptakan lagu untuk menghibur temannya yang sakit, ia sedang mempraktikkan sifat Allah sebagai Maha Penyayang.

Ketika ia menemukan solusi agar air di desanya tidak mubazir, ia sedang menjalankan tugas khalifah di bumi.

Kreativitas yang diarahkan kepada kebaikan akan membuat manusia semakin mirip dengan Penciptanya. Bukan dalam wujud, tapi dalam akhlak dan karya. Inilah yang disebut “berakhlak dengan akhlak Allah”. Mencipta untuk memberi manfaat, bukan untuk pamer.

Penutup: Guru sebagai Arsitek Peradaban

Di zaman algoritma dan otomatisasi, guru tidak akan tergantikan jika ia tetap menjadi manusia dan ciri manusia paling menonjol adalah kemampuannya mencipta.

Guru kreatif adalah guru yang percaya bahwa setiap anak adalah proyek Tuhan yang belum selesai. Tugasnya bukan mencetak seragam, tapi membantu setiap anak menemukan versi terbaik dari dirinya.

Mari kita ubah cara pandang. Mengajar bukan sekadar mentransfer informasi. Mengajar adalah ikut serta dalam proses penciptaan. Menciptakan ide, menciptakan solusi, menciptakan karakter dan pada akhirnya menciptakan peradaban.

Ketika guru berhasil membuat satu anak berani bermimpi, berani mencoba dan berani memberi manfaat, maka saat itu juga ia sedang mendekatkan diri dan muridnya kepada Tuhan Yang Maha Kreatif.

Fa’tabiru…

  • Penulis: Prof. Dr. Nurussakinah Daulay, M. Psi, Psikolog, CWC.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ketika Hati Terasa Jauh dari Allah: Cara Kembali Mendekat kepada-Nya

    Ketika Hati Terasa Jauh dari Allah: Cara Kembali Mendekat kepada-Nya

    • calendar_month Jumat, 14 Agt 2026
    • account_circle Prof. Dr. Salamuddin, S. Ag, M.A.
    • visibility 20
    • 0Komentar

    Ada masa ketika seseorang merasa ibadahnya tidak lagi sekuat sebelumnya. Salat tetap dilakukan, tetapi hati terasa kosong. Membaca Al-Qur’an terasa berat, berdoa pun seakan tidak menemukan ketenangan. Perasaan seperti ini dapat membuat seseorang bertanya-tanya apakah dirinya telah jauh dari Allah SWT. Dalam kehidupan seorang Muslim, naik turunnya semangat beribadah merupakan sesuatu yang perlu dihadapi dengan […]

  • Khutbah Jumat: Pengertian, Hukum, Rukun, dan Hikmah bagi Umat Islam

    Khutbah Jumat: Pengertian, Hukum, Rukun, dan Hikmah bagi Umat Islam

    • calendar_month Jumat, 14 Agt 2026
    • account_circle Prof. Dr. Salamuddin, S. Ag, M.A.
    • visibility 42
    • 0Komentar

    Khutbah Jumat merupakan salah satu bagian penting dalam pelaksanaan salat Jumat. Setiap hari Jumat, umat Islam laki-laki yang memenuhi syarat berkumpul di masjid untuk melaksanakan ibadah yang memiliki kedudukan khusus dalam Islam. Sebelum salat Jumat dilaksanakan, terdapat khutbah yang disampaikan oleh khatib sebagai nasihat dan pengingat bagi jamaah. Khutbah Jumat bukan sekadar ceramah biasa. Di […]

  • Ragam Masjid di Dunia: Dari Masjid Bersejarah hingga Arsitektur Modern

    Ragam Masjid di Dunia: Dari Masjid Bersejarah hingga Arsitektur Modern

    • calendar_month Sabtu, 15 Agt 2026
    • account_circle Prof. Dr. Salamuddin, S. Ag, M.A.
    • visibility 24
    • 0Komentar

    Masjid bukan hanya tempat umat Islam melaksanakan ibadah. Dalam perjalanan sejarah, masjid juga berkembang menjadi pusat pendidikan, kegiatan sosial, kebudayaan, dan kehidupan masyarakat. Tidak mengherankan jika masjid di berbagai negara memiliki bentuk dan karakter arsitektur yang sangat beragam. Dari bangunan bersejarah yang telah berusia ratusan tahun hingga masjid modern dengan desain futuristik, semuanya menunjukkan perjalanan […]

  • Semangat Membangun Peradaban Islam Melalui Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan

    Semangat Membangun Peradaban Islam Melalui Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan

    • calendar_month Sabtu, 15 Agt 2026
    • account_circle Prof. Dr. Salamuddin, S. Ag, M.A.
    • visibility 18
    • 0Komentar

    Aceh — Perkembangan terbaru di Aceh menunjukkan semakin kuatnya perhatian terhadap hubungan antara Islam, pendidikan, dan ilmu pengetahuan. Pernyataan Menteri Agama mengenai peran UIN Ar-Raniry sebagai pusat peradaban Islam modern berjalan seiring dengan program Pemerintah Aceh yang mendorong pembelajaran sains berbasis Al-Qur’an. Kedua perkembangan tersebut menunjukkan adanya dorongan agar pendidikan Islam tidak berhenti pada penguasaan […]

  • Misteri dan Sejarah Maqam Ibrahim: Batu yang Menjadi Saksi Pembangunan Ka’bah

    Misteri dan Sejarah Maqam Ibrahim: Batu yang Menjadi Saksi Pembangunan Ka’bah

    • calendar_month Jumat, 14 Agt 2026
    • account_circle Prof. Dr. Salamuddin, S. Ag, M.A.
    • visibility 20
    • 0Komentar

    Maqam Ibrahim merupakan salah satu tempat bersejarah yang berada di sekitar Ka’bah, Masjidil Haram, Makkah. Meskipun disebut ā€œmaqamā€ atau tempat berdiri, Maqam Ibrahim bukanlah makam Nabi Ibrahim AS. Nama tersebut merujuk pada sebuah batu yang dalam tradisi Islam dikaitkan dengan Nabi Ibrahim AS ketika membangun Ka’bah bersama putranya, Nabi Ismail AS. Batu ini menjadi salah […]

  • Idul Adha 1447 H: 27 Mei 2026

    Idul Adha 1447 H: 27 Mei 2026

    • calendar_month Jumat, 14 Agt 2026
    • account_circle Prof. Dr. Salamuddin, S. Ag, M.A.
    • visibility 25
    • 0Komentar

    Kementerian Agama menetapkanĀ Idul Adha 1447 H jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026. Keputusan ini diambil melaluiĀ Sidang IsbatĀ pada 17 Mei 2026 di Jakarta. Berdasarkan sidang,Ā 1 Dzulhijah 1447 HĀ disepakati jatuh padaĀ 18 Mei 2026, sehingga Hari Raya Idul Adha (10 Dzulhijah) bersamaan dengan 27 Mei 2026. Ketua Bimas Islam Kemenag, Menteri Nasaruddin Umar, menyampaikan penetapan resmi tersebut. Sebelumnya, […]

expand_less