Pentingnya Menjaga Adab dalam Menuntut Ilmu di Lingkungan Kampus
- account_circle Prof. Dr. Salamuddin, S. Ag, M.A.
- calendar_month Jumat, 14 Agt 2026
- visibility 36
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Pentingnya adab (etika dan sopan santun) versus ilmu dalam konteks kehidupan kampus, terutama di perguruan tinggi dengan latar belakang Islam. Penjelasan diambil dari pandangan Syekh Abdulqadir Zailani yang menegaskan bahwa adab lebih utama daripada ilmu. Video menyoroti fenomena mahasiswa dan dosen yang memiliki ilmu tinggi tetapi kurang menjaga etika dan tingkah laku, seperti merokok sembarangan, berkata kasar, atau tidak menghormati sesama. Ilmu tanpa diimbangi adab tidak akan bernilai, bahkan bisa merusak kredibilitas seseorang. Oleh karena itu, penekanan diberikan pada pentingnya mengedepankan adab di lingkungan kampus sebagai tempat orang-orang terpelajar. Namun, konteks tempat tetap harus diperhatikan; misalnya, santai saat di luar kampus tetap boleh asal tahu batasannya. Akhirnya disampaikan pesan moral agar semua akademisi dan mahasiswa dapat menyeimbangkan ilmu dan adab agar kualitas diri dan sosial tetap terjaga.
Sorotan Utama
- 🙏 Adab lebih penting daripada ilmu, menurut Syekh Abdulqadir Zailani.
- 🎓 Kampus sebagai lingkungan orang terpelajar harus mengutamakan etika dan sopan santun.
- 🚭 Perilaku merokok sembarangan dan bahasa kasar mencerminkan kurangnya adab.
- 🤝 Menghargai orang lain dengan tidak memotong pembicaraan dan berbicara sopan itu penting.
- 💔 Ilmu tanpa adab bisa merusak reputasi dan kredibilitas seseorang, termasuk dosen dan mahasiswa.
- 🚦 Penyesuaian perilaku sesuai tempat dan situasi sangat vital.
- 🌱 Kualitas akademik jadi lebih dihargai jika diimbangi dengan sikap dan perilaku yang baik.
Wawasan Kunci
- 📚 Adab sebagai Fondasi Ilmu: Syekh Abdulqadir Zailani pernah menegaskan bahwa adab atau etika berperan fundamental bahkan melebihi tingginya ilmu seseorang. Ini karena tanpa adab, ilmu bisa jadi tidak berguna, atau bahkan menjadi alat untuk kesombongan dan sikap tidak terpuji. Studi kasus iblis yang memiliki ilmu lebih tinggi dari manusia tetapi tetap terjatuh karena kurang adab dan ketaatan memperkuat hal ini.
- 🧠 Ilmu Tanpa Akhlak Merusak Kredibilitas: Seseorang yang memiliki tingkat kepintaran tinggi tetapi tidak beradab akan mengalami penurunan reputasi. Misalnya dosen profesor yang melakukan pelanggaran etika seperti kekerasan seksual akan kehilangan kredibilitas meskipun memiliki gelar dan ilmu tinggi. Sebaliknya, mahasiswa yang sopan dan berakhlak baik berpotensi mendapatkan apresiasi lebih dari orang-orang terpelajar di sekitarnya.
- 🗣️ Bahasa dan Komunikasi Menentukan Citra Diri: Cara berbicara seperti menghindari kata-kata kasar, tidak memotong pembicaraan, dan menggunakan nama yang baik menjadi cerminan kualitas diri. Bahasa yang tidak pantas atau kasar di lingkungan akademik bisa merusak hubungan pertemanan dan profesional, bahkan mempengaruhi suasana belajar.
- 🚭 Etika dalam Perilaku Sehari-hari di Kampus: Perilaku seperti merokok di tempat yang dilarang atau tidak memperhatikan kebersihan menunjukkan lemahnya adab. Menggunakan tempat sesuai aturan bukan hanya soal disiplin, tapi juga bagian dari menghormati lingkungan dan orang lain yang ada di sekitar.
- 🔄 Menyesuaikan Perilaku dengan Konteks Tempat dan Situasi: Perbedaan antara sikap di kampus yang formal dan di luar kampus yang lebih santai harus disadari. Meski di luar kampus seusai suasana bisa lebih santai dan informal, tetap harus diingat nilai-nilai dasar adab agar citra diri selalu terjaga.
- 🌟 Perpaduan Adab dan Ilmu Meningkatkan Kualitas Pribadi: Memiliki ilmu tinggi memang penting, tapi menampilkan ilmu tersebut dengan cara yang hormat dan sopan membuat ilmu lebih bernilai. Kualitas diri seseorang akan lebih dihargai dan mudah diterima jika dibarengi sikap yang baik.
- 💡 Pentingnya Kesadaran Diri dan Refleksi: Video ini juga berfungsi sebagai pengingat untuk refleksi diri bagi mahasiswa dan dosen. Kesadaran akan pentingnya menjaga etika dalam bergaul dan belajar menjadi langkah penting agar tidak menjadi “bodoh tapi ngelunjak”, melainkan menjadi pribadi yang santun dan berilmu.
- Penulis: Prof. Dr. Salamuddin, S. Ag, M.A.


Saat ini belum ada komentar