Menjaga Lisan di Era Media Sosial: Antara Ghibah, Fitnah, dan Tabayyun
- account_circle Prof. Dr. Salamuddin, S. Ag, M.A.
- calendar_month Jumat, 14 Agt 2026
- visibility 33
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Di era digital, menjaga lisan tidak lagi hanya berkaitan dengan apa yang kita ucapkan secara langsung. Perkembangan media sosial membuat kata-kata dapat disampaikan melalui tulisan, komentar, unggahan, pesan pribadi, hingga video dan rekaman suara. Dalam hitungan detik, sebuah informasi dapat tersebar kepada banyak orang.
Kemudahan tersebut tentu memberikan banyak manfaat. Namun, jika tidak digunakan dengan bijak, media sosial juga dapat menjadi tempat munculnya ghibah, fitnah, prasangka, dan penyebaran informasi yang belum terbukti kebenarannya. Karena itu, seorang Muslim perlu memahami bagaimana Islam mengajarkan kita untuk menjaga perkataan sekaligus menggunakan media sosial dengan penuh tanggung jawab.
Pentingnya Menjaga Lisan dalam Islam
Islam memberikan perhatian besar terhadap perkataan manusia. Setiap ucapan memiliki konsekuensi dan seorang Muslim diperintahkan untuk berbicara dengan perkataan yang baik.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Ahzab ayat 70:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”
Ayat tersebut menunjukkan bahwa berkata benar merupakan bagian dari ketakwaan. Dalam kehidupan sehari-hari, menjaga lisan berarti menghindari perkataan yang dapat menyakiti, merendahkan, mempermalukan, atau merugikan orang lain.
Di media sosial, prinsip ini tetap berlaku. Meskipun seseorang tidak mengucapkannya secara langsung, komentar, caption, unggahan, dan pesan yang ditulis tetap merupakan bentuk komunikasi yang harus dipertanggungjawabkan.
Ghibah di Era Media Sosial
Ghibah merupakan salah satu perilaku yang perlu dihindari oleh setiap Muslim. Secara sederhana, ghibah adalah membicarakan seseorang mengenai sesuatu yang tidak disukainya ketika hal tersebut memang benar adanya.
Di media sosial, ghibah dapat muncul dalam berbagai bentuk. Misalnya, membicarakan keburukan seseorang dalam grup percakapan, membuat unggahan yang menyindir orang tertentu, membagikan cerita tentang aib seseorang, atau ikut berkomentar mengenai kehidupan pribadi orang lain.
Terkadang seseorang menganggap hal tersebut hanya sebagai candaan atau bahan pembicaraan biasa. Padahal, jika perkataan tersebut membuat orang yang dibicarakan merasa tidak senang apabila mengetahuinya, kita perlu berhati-hati.
Allah SWT menggambarkan buruknya ghibah dalam QS. Al-Hujurat ayat 12 dengan perumpamaan memakan daging saudara sendiri yang telah meninggal. Gambaran tersebut menunjukkan betapa seriusnya larangan ghibah dalam Islam.
Fitnah dan Bahayanya di Dunia Digital
Selain ghibah, fitnah juga menjadi persoalan yang sangat serius di media sosial. Informasi yang tidak benar dapat menyebar dengan cepat dan merusak nama baik seseorang.
Satu unggahan yang dibuat tanpa pertimbangan dapat dibagikan berkali-kali oleh orang lain. Akibatnya, informasi yang awalnya belum jelas dapat dianggap sebagai fakta.
Islam mengajarkan umatnya untuk berhati-hati sebelum menerima dan menyebarkan berita. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 6:
“Jika datang kepada kalian seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya…”
Ayat ini menjadi pengingat penting di tengah derasnya arus informasi. Tidak semua informasi yang muncul di media sosial dapat langsung dipercaya.
Tabayyun: Jangan Terburu-Buru Membagikan Informasi
Salah satu sikap yang sangat penting di era digital adalah tabayyun, yaitu memeriksa dan memastikan kebenaran suatu informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.
Sebelum membagikan sebuah berita, kita dapat bertanya kepada diri sendiri:
- Apakah informasi ini berasal dari sumber yang terpercaya?
- Apakah berita tersebut memiliki konteks yang lengkap?
- Apakah informasi tersebut sudah dikonfirmasi?
- Apakah membagikannya memberikan manfaat?
- Apakah ada kemungkinan informasi ini merugikan orang lain?
Kebiasaan sederhana tersebut dapat membantu kita menghindari penyebaran berita palsu, fitnah, dan kesalahpahaman.
Tabayyun juga menunjukkan bahwa seorang Muslim tidak mudah mengikuti arus. Ketika banyak orang membicarakan suatu persoalan, bukan berarti informasi tersebut otomatis benar.
Menjaga Jari Sama Pentingnya dengan Menjaga Lisan
Di zaman dahulu, menjaga lisan berarti berhati-hati ketika berbicara. Saat ini, konsep tersebut dapat diperluas menjadi menjaga apa yang kita ketik, unggah, komentari, dan sebarkan.
Jari kita dapat menjadi sarana untuk melakukan kebaikan. Dengan media sosial, seseorang dapat menyebarkan ilmu, mengingatkan dalam kebaikan, membantu orang lain, dan memberikan informasi yang bermanfaat.
Namun, jari yang sama juga dapat menjadi sarana menyebarkan kebencian, penghinaan, ghibah, dan berita yang belum terbukti kebenarannya.
Karena itu, sebelum menekan tombol “kirim”, “unggah”, atau “bagikan”, ada baiknya kita berhenti sejenak dan mempertimbangkan dampaknya.
Prinsip Bermedia Sosial dalam Islam
Ada beberapa prinsip yang dapat diterapkan seorang Muslim ketika menggunakan media sosial.
Pertama, berkata atau menulis sesuatu yang baik. Jika tidak ada manfaat dari perkataan tersebut, lebih baik menahan diri.
Kedua, memastikan kebenaran informasi. Jangan menjadikan jumlah likes, views, atau komentar sebagai ukuran kebenaran sebuah berita.
Ketiga, menjaga privasi dan aib orang lain. Tidak semua persoalan pribadi layak dijadikan konsumsi publik.
Keempat, menghindari komentar yang merendahkan. Perbedaan pendapat tidak harus berubah menjadi penghinaan atau permusuhan.
Kelima, menggunakan media sosial untuk hal yang bermanfaat. Media sosial dapat menjadi sarana dakwah, pendidikan, silaturahmi, dan berbagi inspirasi.
Belajar Diam Ketika Tidak Perlu Berbicara
Tidak semua hal harus dikomentari. Tidak semua berita harus dibagikan. Tidak semua persoalan orang lain harus kita ikut campuri.
Terkadang, diam justru menjadi pilihan yang lebih baik.
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya berkata baik atau diam. Pesan tersebut sangat relevan dengan kehidupan di media sosial saat ini.
Kita tidak harus selalu memberikan pendapat terhadap setiap persoalan. Menahan diri dari komentar yang tidak perlu bukan berarti kita tidak peduli. Bisa jadi, itu merupakan bentuk kedewasaan dan upaya menjaga diri dari dosa.
Kesimpulan
Menjaga lisan di era media sosial merupakan bagian dari menjaga akhlak seorang Muslim. Ghibah, fitnah, penghinaan, dan penyebaran informasi yang belum terverifikasi dapat memberikan dampak besar bagi kehidupan seseorang.
Islam mengajarkan kita untuk berkata benar, menjaga kehormatan orang lain, serta melakukan tabayyun sebelum mempercayai dan menyebarkan informasi.
Oleh karena itu, mari menjadikan media sosial sebagai ruang untuk menyebarkan kebaikan, bukan memperbesar keburukan. Sebelum berbicara, mengetik, berkomentar, atau membagikan sesuatu, mari bertanya kepada diri sendiri: “Apakah ini benar? Apakah ini baik? Apakah ini bermanfaat?”
Sebab, di era ketika satu kalimat dapat menjangkau ribuan orang, menjaga lisan juga berarti menjaga jari dan menjaga hati.
- Penulis: Prof. Dr. Salamuddin, S. Ag, M.A.


Saat ini belum ada komentar